Balada Orang Biasa

Berbagi Untuk Semua, Ingin Bermanfaat Bagi Sesama

DI LAMPU MERAH TUGU TAPAK SIRIH

Posted by lexdoank pada Desember 17, 2008

simpang-ska

Lampu merah tugu Tapak Sirih di rembang petang ketika magrib akan menjelang. Pandanganku tajam menatap seorang ibu, masih muda, sambil menggendong anaknya. Sejurus kemudian pikiranku melayang pada anakku yang kedua, mungkin seusianya atau lebih sedikit. Satu-persatu mobil ia singgahi dan memang tidak ada satupun yang berempati. Ia palingkan lagi wajahnya pada kendaraan di belakangnya, berharap ada selembar ribuan yang akan ia terima atau recehan yang diberi. Demi makan hari ini, buat menggembirakan anak-anaknya yang tersayang.

Ah….kadang aku juga pernah berpikir, kenapa mereka tidak berusaha, bekerja misalnya? atau lebih punya harga diri menjual koran seperti halnya orang-orang di lampu merah itu? Tapi aku tidak bisa menyalahkan ibu itu sertamerta. Dan aku juga tidak setuju orang lain menyalahkan ibu itu. Karena itu adalah soal pilihan hidup. Atau itu adalah “usaha” terakhir dia dalam berjuang untuk hidup di arena kehidupan ini.

Kadang aku juga berpikir, tidak adakah orang yang bertanggung jawab. Suaminya? keluarganya? Ah…mungkin saja semuanya tidak ada lagi. Dan ini memang soal pilihan-pilihan hidup. Tapi yang pasti aku ingin mengatakan bahwa, mereka-mereka itu, para peminta-minta itu adalah seratus persen tanggungjawab pemerintah. Karena pemerintah adalah yang di beri kuasa untuk mengurus urusan rakyat ini (politik). Karena rakyat percaya padanya untuk mensejahterakan semua rakyat ini.

Toh kenapa hanya harus aturan dan Perda belaka yang terpampang di setiap sudut lampu merah itu saja yang ada? PERDA Gepeng atau yang sejenis. Yang melarang para gepeng untuk meminta-minta di tempat-tempat umum, seperti lampu merah.

Aku bukan tidak setuju dengan Perda semacam itu. Tapi harus ada solusi konkrit yang memberdayakan mereka. Jika mereka di larang meminta dan mengemis di jalanan. Apakah ada usaha untuk membina mereka. Memberi mereka keterampilan dan skill. Lalu jika mereka sudah pandai, menyalurkan kredit lunak buat buka usaha bagi mereka. Adakah semua itu dilakukan? Jika tidak ada, sama saja kita melarang orang untuk hidup. Melarang hak orang untuk mempertahankan hidup.

Begitulah nasib anak negeri ini. Begitulah penguasa negeri ini bekerja. Yang katanya ketika kampanye berjuang untuk rakyat, bekerja untuk rakyat, mensejahterakan rakyat. Rakyat yang mana ???

Tidak itu saja permasalahan negeri ini. Ada banyak masalah di negeri ini. Ada sejuta problem yang menanti diselesaikan di negeri ini. Akankah negeri ini akan melahirkan pemimpin yang benar-benar berpihak pada rakyat banyak? Akankah?

Tapi yang pasti aku tidak pernah pesimis terhadap nasib anak bangsa ini. Karena harapan itu masih ada.

image dari sini

Iklan

20 Tanggapan to “DI LAMPU MERAH TUGU TAPAK SIRIH”

  1. ekoph said

    satu kata saja, dilematis

  2. isfiya said

    Tapak Sirih itu bukan Tampak Siring ya…..
    Makasihh…dah mampir….

  3. suwung said

    setelah baca ini cakrawala jadi terbuka

  4. thya said

    namanya juga pemerintah dan badut2 legislatif, hahaha.. **sok mengkritik banget

    tapi kasian juga sih bang, hanya saja, kadang2 ada faktor kemalasan di gepeng itu, mama ku selalu mengkritik, kan mereka bisa ya jadi pemulung ataupun jadi asisten ruma tangga,

    yah persoalan kaya gini gak akan habisnya sih emang, tapi bener lagi, harapan pasti ada!

    maka itu coblos nomer 2345, thya for president, hahaha

  5. Sha said

    Mungkin ada juga dari mereka yang berpikiran seperti ini, “dengan cara ini aku bisa hidup, jadi tak salah aku menjadikan ini sebagai mata pencaharian, dari pada susah-susah kerja”

  6. Rian Xavier said

    Memang begini ini suatu dilema. Jadi kasian juga kalo lihat.

  7. Nin said

    Di Lombok sini…. di setiap lampu merah, nyaris selalu ada yang seperti ini

  8. yodama said

    itu di Rembang tho? Jadi itu foto tugu tapak sirihnya :O

    terkadang kita juga jadi serba salah. Ndak diberi…tapi kasihan. Diberi…malah membuat mereka semakin malas. Ibarat memakan buah simalakama jadinya. Dimakan ibu mati, gak dimakan bapak yg mati. Dilematis jadinya.

    Kalo menurut UUD khan, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Tapi nyatanya… entahlah!

  9. hidayanti said

    entah tapi dalam hati nurani ku aku selalu tidak pernah menyukai politik di indonesia..benciiii benciiii…tapi aku juga tidak pernah menyalahkan kenapa aku menjadi orang indonesia hanya saja,aku terus berharap agar indonesia mau sedikit melihat kebawah..tidak perlu jongkok anya tengoklah dan lihatlah kami yang di bawah..
    aku sedih,makin sedih melihat tingkat kemiskinan yang terus meningkat,tapi kepada siapa ku harus marah?apa dengan marah2 semua bisa menajdi lebih baik??

    aah..tolong jawab mas?ada apa dengan indonesia?

  10. wi3nd said

    tapak sirih?
    hmm..pemandan9an yan9 serin9 daku jumpai setiap harina lex..
    kadan9 dilematis ju9a,menjadikan anak seba9ai tamen9,miris rasana..
    kadan9 in9in memberi,kadan9 taK suKa carana..
    hin99a akhirna men9abaikan ituh semua,memberi ya memberi tanpa alasan apapun,jika tak memberi ya jan9an n9edumel,be9itu yan9 daku lakukan..

    harapan ituh selalu ada lex,dan harus tetap ada,tetap 0PT!mis..!!
    ..:)

  11. Tapi yang pasti aku tidak pernah pesimis terhadap nasib anak bangsa ini. Karena harapan itu masih ada. Sie suka bagian yang ini!! Makasih udah berkunjung maaf baru sempat berkunjung balik

  12. Farrel said

    Huhhhh…*mengeluh*
    Itulah Indonesia…

  13. Sepertinya Iza pernah lalu lalang di jalan itu dua tahun yang lalu. Sekarangpun masih ada undangan tuk jalan2 kesana, cuma sekarang belum ada rezeki 🙂

  14. Bangkit Indonesia… Harapan itu masih ada….

    salam kenal mas 🙂

  15. aRai said

    harapan?

    asal sabar kale yah pasti harapan itu ada … hehe

  16. tukyman said

    seiring waktu berlalu begitu cepat
    aku datang keblogmu dengan membawa Software can’t copy CD 🙂
    salam kenal

  17. hmcahyo said

    ah memang sedih sekali memikirkan nasib mereka… banyak pihak terkait… dan banyak dimensinya- moral, spiritual dan lain-lain..

    tapi harapan itu memang harus kita semai dalam hati kita 🙂

  18. edratna said

    Kita tak bisa hanya menyalahkan, jika mereka ditangkap, kemudian dididik, dan dikembalikan ke daerahnya…mereka tetap akan kembali ke lampu merah. Kecuali jika tak ada seorangpun yang akan memberi uang receh, mereka akan terpaksa untuk mau bekerja.

    Betapa banyak sebetulnya yang membutuhkan pembantu, tapi seperti ibu itu akan memilih yang mudah, karena menjadi pembantu (yang dapat uang, makan dan tidur gratis), tetap lebih rendah hasilnya. Dan…belum tentu anak itu anaknya.

    Bisa juga saya salah, tapi memang benar kita harus berhati-hati dalam menganalisis, karena ada banyak anak diculik untuk diajak sebagai peminta-minta….sebaiknya diadakan penelitian dulu yang komprehensip, mencari tahu dari dinas sosial, apa yang telah pernah mereka kerjakan, sehingga kita dapat menawarkan solusi ….

  19. Serba salah jika sudah menyangkut GePeng, mas alex…

    bingung

  20. fakir miskin dan anak2 telantar sesungguhnya menjadi tanggung jawab pemerintah utk menjaga dan memperhatikannya, uud kita mengatakannya begitu. tapi repotnya, para penguasa negeri ini seolah2 menutup mata terhadap kehadiran mereka yang bernasib kurang beruntung itu, bung abdillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: