PEREMPUAN-PEREMPUAN BESAR
Ditulis oleh lexdoank di/pada Desember 19, 2008
Jauh sebelum barat meng-kampanye-kan emansipasi ala westernisasi. Empat belas abad yang lalu di Lembah bernama Makkah dan Madinah telah bergaung kampanye mengangkat derajat wanita yang di pimpin oleh Muhammad Rasulullah. Lihatlah wanita-wanita mulia zaman itu yang kemuliaannya harum sepanjang masa. Ada Khadijah Al-Kubra yang menjadi saudagar kaya raya dan menopang dakwah suaminya Rasulullah. Ada Aisyah Al-Humaira yang menjadi gudang ilmu bagi para sahabat sepeninggal Rasulullah. Hampir semua hadits-hadits yang berkenaan dengan rumah tangga dan wanita di riwayatkan oleh beliau.
Kemudian ada Fatimah Az-Zahra, wanita paling mulia sepanjang masa. Beliau telah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah (timba) hingga berbekas pada dadanya. Dan dia juga menyapu rumahnya hingga berdebu bajunya. Disamping itu dia juga seorang sahabiyah yang berjuang meng-Islam-kan kaumnya ketika itu.
Jika kita membaca kisah-kisah heroic wanita-wanita di zaman Rasulullah, maka berdecak kagumlah kita akan perjuangan mereka dalam kancah perjuangan dan keikhlasan mereka serta kesetiaan mereka pada suami-suami mereka.
Lalu di abad 20 kita mengenal sosok wanita pejuang yang ibarat kata pepatah mengatakan “Tangan yang menghayun buaian bisa menggoncang dunia”. Itulah dia Zainab Al-Ghazali, seorang ibu rumah tangga, ia bisa mengguncang dunia, meng-inspirasi banyak wanita di dunia. Disaat bangsanya di kuasai oleh pemerintah boneka barat. Sekularisasi dan westernisasi terjadi di seluruh negeri. Dia bangkit bersama-sama pejuang muslimah lainnya, diantaranya dua saudara perempuan Sayyid Qutb, yakni Aminah Qutb dan Hamidah Qutb. Ia kibarkan panji dakwah lewat Saidatina Muslimah sayap dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mencerdaskan wanita bangsanya. Ia bebaskan kaumnya dari belenggu pembodohan barat. Hingga ia di jebloskan ke penjara oleh penguasa bangsanya. Disiksa, di setrum layaknya penyiksaan pada tahanan laki-laki. Namun ia tetap tegar dan hingga menggetarkan barat dan dunia.
RA Kartini adalah ikon emansipasi wanita di negeri ini. Ia tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan surat-suratnya : “Door Duisternis Tot Licht”, yang terlanjur di artikan oleh Armijn Pane sebagai, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sedangkan Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan Depdikbud tahun 80-an, yang notabene cucu R.A. Kartini mengartikannya sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya“, yang apabila jika kita lihat dalam Al-Qur’an akan tertulis sebagai, “Minadz Dzulumaati Ilaan Nuur”. Ini adalah inti ajaran Islam yang membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) menuju cahaya (iman dan Islam). Kartini masa itu ada dalam proses kegelapan menuju cahaya, namun cahaya itu belum sempurna menyinari, karena terhalang oleh usaha westernisasi. Kartini masa itu telah mencoba meretas jalan menuju ke tempat yang terang. Itulah persepsi aku tentang ibu kita Kartini.
Kemudian aku juga ingat bagaimana perjuangan seorang ibu, yang suaminya jatuh sakit dan terbaring ditempat tidur, berjuang “membesarkan” anak-anaknya yang berjumlah sembilan orang. Mulai jadi kuli sawah sampai berdagang kue keliling ia lakoni, demi sebuah cita-cita anak-anaknya bisa sekolah dan menjadi manusia-manusia yang berguna bagi bangsa dan agamanya. Dan kini aku ingat dia, ku telpon dan aku tanyakan padanya ; bagaimana khabarmu sekarang wahai ibuku?
Ah….aku juga teringat akan istriku yang tercinta. Hmm…..empat tahun sudah ia menemaniku dalam perjalanan ini, suka duka kami tempuh bersama. Aku masih ingat bagaimana ia dinihari qiyamullail (menghidupkan malam), pagi-pagi menyiapkan segala kebutuhan aku dan anak-anak, lalu pergi berangkat mengajar mahasiswa-mahasiswanya di kampus. Sore dan malam bercengkrama dan membina anak-anak. Benar-benar luar biasa. Makanya aku juga menolong ia menyelesaikan pekerjaan domestic rumah tangga. Karena pernikahan itu adalah sebuah kerjasama, karena istri adalah teman sejati, dan karena rumah tangga adalah sebuah taman cinta yakni Baiti jannati; rumahku adalah Surgaku.
Begitulah wanita-wanita itu, berjuang, berdakwah, menjadi saudagar, tempat gudang ilmu, menginspirasi semua wanita, mendidik anak-anaknya dan menemani suami-suami mereka dalam suka dan duka, disamping mereka juga menjadi ibu rumah tangga. Subhanallah !!
Maka berbahagialah engkau wahai ibunda, wahai istriku, wahai perempuan-perempuan dunia, karena pengabdianmu pada agama, bangsa dan keluargamu itulah yang menjadikanmu perempuan-perempuan besar. Dan mengantarkanmu semulia sabda Rasulullah ; “Surga itu berada di telapak kaki ibu” dan ketika Beliau saw ditanya, siapakah yang patut kami muliakan dulu, ayahku atau ibuku? Jawaban beliau adalah ; “IBUMU, IBUMU, IBUMU dan barulah ayahmu”.
*Refleksi 80 tahun kebangkitan wanita indonesia


renimaldini berkata
ohhh indah sekali kupasannya… dan sangat inspiratif….Begitu banyak perempuan yang mulia dulu (dan mereka dimuliakan karena kepribadian dan perbuatannya)
kalo sekarang siapa wanita yang bisa seperti aisyah atau khadijah, saya berharap itu bisa terjadi sama saya (setidaknya saya akan mencotoh seorang ibu yang delapan tahun lalau berjuang mendidik dan mengasuh empat orang anaknya sendiri.Tanpa kenal lelah. Dia salah satu wanita yang menurut saya harus dimuliakan…)
tq atas tulisannya mas alex….
langitjiwa berkata
malam ini setelah kembali dari bekerja.aku ingin segera menciumnya dan membisikan ditelinganya; kau adalah wanita yg hebat!cup!!! hehehe…
zee berkata
Seandainya saja semua lelaki berpikiran yang sama, bahwa perempuan itu adalah makhluk yang harus dicintai dan dihormati… Masih banyak di luar sana perempuan yang tertindas dan dianiaya oleh suaminya sendiri.
Arikaka.com berkata
Sulit mau ngomong apah..
..
.
Gusti Dana berkata
Lagi Mampir…
Sosok wanita seperti beliau2 itu memang sulit dicari dimasa skrg ini.
Btw,met hari Ibu ya:-)
agunk agriza berkata
skrg ada ga ya perempuan2 sperti itu ?
hmm .. mama ak juga hebat low
edratna berkata
Perempuan yang bahagia, adalah jika mendapatkan pasangan hidup yang memahami dan selalu mendukungnya. Di belakang laki-laki yang berhasil, selalu ada perempuan yang mendukungnya (ibu dan isterinya)…demikian pula perempuan yang sukses, karena ada laki-laki yang mendukungnya (ayah dan atau suaminya).
arifrahmanlubis berkata
wanita yg besar akan melahirkan pahlawan2 yg besar sekaligus menjadi tonggak penyokongnya
Farrel berkata
Selamat hari Ibu…
alex© berkata
Beuhh… lumayan lengkap catatan wanita-wanita hebatnya
*save*
Tapi ditambahi, Mas. Kalau bisa yang dari dalam negeri. Itu juga banyak wanita-wanita hebat, yang bisa mengayun buaian tapi juga tak kalah dalam mengayun kelewang utk kemerdekaan
Rian Xavier berkata
Bagus ini artikelnya.Tapi bagaimana dengan peran ayah? Sekarang juga banyak ayah yang ‘mendobel’ pekerjaan sebagai ibu juga.
Agung Mojosari berkata
Postingan yang bagus mas alex….
Beruntunglah wanita2 yang mempunyai suami dan keluarga yang penyayang dan beruntunglah suami2 yang mempunyai istri yang luar biasa….
Salam buat keluarga
Riny Yunita berkata
Nice post, semoga bisa menjadi tauladan bagi kami para wanita, makasih postingannya.
aya berkata
happy mother’s day..
salam kenal maz, blog e mantep ya ^_^
junjungpurba berkata
jadi teringan sm ibu saya, hikz…
ichanx berkata
sayangnya… masih banyak yang menganggap islam melakukan diskriminasi pada wanita… padahal, betapa tingginya derajat ibu dalam islam…
aRuL berkata
sutu saat saya juga berkeinginan untuk ditemani sepanjang masa, seorang wanita yang mulia….
selamat hari ibu
wi3nd berkata
hepi mother days..
semo9a diriQ bisa men9ikuti jejak mereka,amien..
syelviapoe3 berkata
wanita…
dari rahimnya lahir para pengguncang dunia
Selamat hari ibu…
nh18 berkata
HHmm …
Ya … Selamat Hari Ibu …
thanks uda
Alim Mahdi berkata
Tulisan yang menggetarkan dada laki-laki. Terima kasih Ibu…
Eucalyptus berkata
Subhanallah, begitu mulia wanita2 yang diceritakan disini.
Semoga wanita2 Indonesia jaman sekarang bisa menjadi pahlawan wanita, minimal bagi anak2 & suaminya. Menjadi isteri dan perempuan yang solehah adalah merupakan harta yang tak ternilai bagi suami dan anak2nya. Dari ibu pula bisa mencetak generasi penerus sebagaimana yang diharapkan orang tua, bangsa serta agama.
okta sihotang berkata
selamat hari ibu
hanafi berkata
Subhanallah… begitu luar biasa.. semoga wanita-wanita kita bisa menirunya…
semoga selalu dimudahkan urusannya ya mas
Fairuz ねえーちゃん berkata
Kangen Ummi di rumah…
ika berkata
Alhamdullillah anda dikaruniai istri yang bukan saja cerdas tapi juga sholeha. I wish I could………..
F@tM@ berkata
Selamat hari ibu
aRai berkata
nama ibuku kok ga di ikutin dalam postingan ini ya … hehe
Sawali Tuhusetya berkata
sungguh mulia peran perempuan2 besar itu dalam membangun peradaban bangsa pada zamannya, semoga ada khatijah atau fatimah2 baru yang akan terus bermunculan, sehingga perempuan2 besar selalu ada dalam setiap peradaban. dirgahayu ibu indonesia!
ladangkata berkata
jadi kangen ibuku…
beliau “besar” bukan karena melakukan hal-hal besar dalam hidupnya, tapi karena melakukan hal-hal kecil yang dilakukan sepenuh hati untukku…
tutinonka berkata
Salam untuk isteri Uda Alex ya. Saya sungguh kagum padanya. Wanita yang sempurna : mengurus segala keperluan suami dan anak-anak, namun juga mengabdikan diri dan ilmunya bagi para mahasiswa penerus bangsa.
Semoga akan banyak gadis-gadis muda yang bisa mengikuti jejak isteri Uda Alex